Summit Attack Slamet

Jam 3:30 di hari berikutnya kami bangun, melakukan persiapan untuk perjalanan ke puncak. Di atas kertas, perlu waktu 2 jam untuk mencapai puncak dari pos 7. Tenda dan seluruh barang yang tidak diperlukan kami tinggal di pos 7. Dalam rencana ini ikut juga bergabung tetangga kami lainnya sebanyak 4 orang. Tepat pukul 4 dini hari kami meninggalkan tenda kami. Di tengah kegelapan ini, saya tidak bisa banyak mendeteksi wilayah sekitar saya. Yang diingat hanya jalan yang terus menanjak, sementara itu medannya masih didominasi oleh tanah.

Hampir 1 jam setelahnya kami tiba di batas vegetasi. Dari sini, tidak ada lagi pepohonan ditemui, medannya berubah dari tanah menjadi batu-batuan vulkanik keras dan tajam. Jika Semeru didominasi oleh pasir halus, di sini batu-batuan keras sehingga kita bisa dengan mudah naik tanpa harus turun merosot terbawa pasir. Cuaca benar-benar bagus dan angin bertiup sangat bersahabat tanpa membuat tubuh terlalu dingin.

Suasana summit attack

Suasana summit attack

Kami berdua naik dengan kecepatan konstan, sementara tetangga kami tertinggal di belakang. Pijakan yang solid membuat langkah naik kami mudah, meski beberapa kali harus berhenti menarik napas. Suasana pendakian saat itu sangat ramai, banyak sekali pendaki yang melakukan perjalanan ke puncak di waktu yang sama, tak heran memang, akhir tahun.

Jam menunjukkan pukul 5:30, saat mengecek ketinggian kami sudah berada di ketinggian 3.300 an mdpl. Ujung puncak Slamet sudah tampak terlihat di depan mata kami, sementara tepat di arah belakang kami, arah timur, langit berwarna keemas-emasan sudah muncul tepat di garis horizontal di balik Sumbing Sindoro. Tanpa berniat buru-buru ke puncak, kami berdua memutuskan untuk menunggu sunrise tiba di titik ini.

Good morning world!

Good morning world!

Cuaca sangat cerah saat itu, meski kami sebetulnya nekat naik di tengah puncak musim penghujan. Di sebelah kanan saya melihat garis pantai selatan terpampang jelas. Di depan kami adalah dataran tinggi Dieng, berbaris rapi gunung-gunung besar lainnya Sumbing, Sindoro, Merapi, sementara Merbabu mumpet tak terlihat tertutup gunung Sumbing Sindoro. Awan-awan tipis menutupi pemandangan di sebelah kiri saya, jika tidak sepertinya garis pantai utara akan terlihat jelas dari tempat ini.

Perjalanan ke puncak selanjutnya tidaklah sulit, menyisakan beberapa meter saja sampai kami benar-benar tiba di atap Jawa Tengah, Gunung Slamet 3.428 mdpl. Tangis… haru… tidak kami alami saat itu, hehe, perasaan yang, buat saya, terlalu melankolis untuk menikmati indahnya alam yang satu ini. Tapi rasa puas dan syukur sangat saya rasakan dengan melihat lukisan alam dari Sang Pencipta terpampang manis di depan mata saya. Lukisan dalam format full size yang tak dapat kita sentuh namun pesonanya benar-benar mampu mengoyak kedalaman dasar sanubari kita akan kemahakuasaan Sang Pencipta.

Ujung dunia...

Ujung dunia…

Siluet di Puncak Slamet

Siluet di Puncak Slamet

Perjalanan turun sendiri tidak terlalu menyita banyak waktu. Hanya saja, struktur batuan di sini sangat tajam bak silet yang tersebar di mana-mana. Tidak disarankan berselancar pasir di sini karena bisa-bisa kulit-kulitmu terkelupas tersenggol batu-batuan tajam khas Gunung Slamet. Perjalanan turun dari puncak ke pos 7 membutuhkan waktu sekitar 1 jam saja. Setelah istirahat panjang di pos 7, kami turun dengan langkah konstan dan hanya membutuhkan waktu sekitar 3 jam saja hingga kami akhirnya tiba di pos 1. Pukul 4 kami langsung bergegas dari basecamp Bambangan untuk selanjutnya ke terminal Purwokerto. Dengan menggunakan jasa angkutan yang sudah tersedia di situ, kami berdua hanya mengeluarkan ongkos sebesar 25 ribu rupiah sampai terminal, 2 kali lebih hemat dari ongkos ojeg. Tepat pukul 6 kami menggunakan bus Harum Sari berangkat dengan tujuan utama dan terutama pendakian kami saat ini, yaitu kembali ke Bandung.

Kriswanto, Andreas 2015

Sebelumnya di The Day Pendakian Slamet

Liburan akhir tahun, tak heran situasi cukup ramai tapi masih terkendali

Liburan akhir tahun, tak heran situasi cukup ramai tapi masih terkendali

Sayangi alam Anda, "bulb" lebih baik dari pada vandalisme

Sayangi alam Anda, “bulb” lebih baik dari pada vandalisme

Hindari vandalisme, bro, sist

Hindari vandalisme, bro, sist

The Day: Pendakian Slamet

Cuaca sangat cerah saat itu. Puncak Slamet terlihat jelas dari arah kami berdiri. Dibalutkan pasir vulkanik, kemerah-merahan tersorot sinar matahari yang mulai terbit dari arah depannya. Temperatur saat itu cukup dingin, tapi tidak sampai menusuk tulang, segar lebih tepatnya, cocok untuk semacam terapi alam bagi masyarakat kota yang sudah terlalu sering menghirup udara berasap.

Kami memasuki basecamp Bambangan yang ternyata merupakan bangunan permanen, semacam rumah warga. Di sepanjang jalan ini juga sebetulnya ada beberapa tempat yang bisa dijadikan peristirahatan oleh pendaki. Saat itu sudah memasuki masa liburan sehingga di banyak tempat sangat mudah kita menjumpai pendaki lainnya yang hendak turun atau naik gunung Slamet.

Sejenak kami mengambil waktu untuk merebahkan diri di sebuah ruangan yang dilapisi oleh karpet. Saat kami masuk, ada sejumlah rombongan, sekitar 10-an orang tengah tertidur pulas setelah sehari sebelumnya mereka baru menuruni gunung atapnya Jawa Tengah ini. Sementara, ada 4 orang lainnya sesama rombongan dari Bandung yang rupanya sudah siap untuk melahap trek via Bambangan ini.

Saya sendiri, tempat pertama yang dicari saat tiba di basecamp adalah kamar mandi. Meski dingin, saya memaksakan diri untuk mandi di pagi hari. Percaya atau tidak, mandi pagi di basecamp mana pun bisa memberikan efek segar dan juga tenaga baru, selain itu efek psikologis dari mandi juga sangat membantu kita untuk bisa beradaptasi dengan udara sekitar pegunungan yang dingin dan tentu menambah kegantengan sebesar 10%, hadeuh, intinya mungkin saya kerajinan mandi.

Dibuat kagetlah saya dengan keadaan kamar mandi di sana. Bukan karena kotor atau pun kurang nyaman, sangat manja jika seorang pendaki gunung mengeluhkan kondisi toilet yang kurang tertata rapi setelah dia biasa menggunakan “toilet alam” di hutan sana. Masalah saya kali ini bukan tentang itu, melainkan masalah yang jauh lebih penting lagi, tidak ada air!

Astaga rupanya sudah sejak lama air di sini kering, cukup aneh pikir saya mengingat desa ini terletak di kaki gunung yang seharusnya mengalirkan sumber mata air tak terbatas. Mungkin hanya kamar mandi di tempat ini saja yang bermasalah, tapi makin kaget setelah saya memeriksa beberapa tempat lainnya yang ternyata bernasib sama, tanpa air.

Jangankan untuk mandi, untuk menyiram buangan air kecil saja tidak ada. Dan muzijat terjadi setelah seorang bapak di rumah sebelah rupanya memiliki Sanyo (penyedot air tanah) dan dia memperbolehkan saya mengambil air melalui selangnya. Miris. Lagi-lagi miris karena saya hanya berhasil mengumpulkan satu ember kecil saja, tepatnya seukuran ember bangunan hitam kecil. Terpaksalah saya harus menggunakannya berhemat-hemat. Untuk sekedar cuci muka, gosok gigi dan “setor”, ritual wajib yang harus dilakukan sebelum nanjak. Walau demikian, saya masih tetap mensyukurinya. Terpikir dalam benak saya, bagaimana masyarakat di sini melakukan kegiatan rutin mereka dengan air yang sulit didapat ini? Semoga keadaannya makin membaik di waktu selanjutnya.

Waktu menunjukkan pukul 7:00 tanggal 28 Desember 2013 ketika kami berdua selesai menyantap sarapan pagi kami. Sarapan sederhana dengan menu telur dadar dan sedikit sayur mayur, tapi sangat cukup untuk bekal tenaga kami melakukan aktifitas hari ini. Pemeriksaan ulang kami lakukan. Pemeriksaan selesai, peralatan lengkap, jaket terpasang, registrasi selesai dan tepat pukul 7:20 kami berdua, ya berdua saja meninggalkan tempat singgah sementara kami itu.

Target kami di hari pertama adalah Pos 7, 1 pos sebelum batas vegetasi menuju puncak. Menurut kami, inilah pos paling pas, dengan masih rapatnya pepohonan di sana akan membuat tempat kemah kami nyaman, tetapi sekaligus pos itu juga yang merupakan pos terdekat menuju puncak. Pendaki yang melakukan perjalanan via Bambangan pada umumnya mendirikan tenda di pos 5 atau 7. Pos 5 jadi yang paling favorit karena di situ terdapat satu-satunya sumber air, hanya saja jarak ke puncak masih cukup jauh jika ditempuh dari pos 5.

Setelah melewati tanjakan beraspal kami tiba di gerbang pendakian Slamet via Bambangan. Gapuranya amat fenomenal di mbah Google, terletak di sebelah kanan jalan berwarna hijau. Memasuki gapura tersebut kami melewati jalanan setapak yang dikelilingi oleh perkebunan warga. Nyaris tidak basa-basi, tidak ada jalanan landai, meski masih berjalan di sekitar perkebunan, jalanan yang kami hadapi didominasi oleh tanjakan-tanjakan ringan (mengharapkan jalanan datar saat naik gunung? Bagai punduk merindukan bulan).

Sekitar setengah jam berjalan, kami mulai meninggalkan kumpulan perkebunan tersebut dan memasuki daerah dengan vegetasi pepohonan yang rapat. Berjalan sepuluh atau dua puluh langkah dan berhenti, berjalan sepuluh atau dua puluh langkah dan berhenti (1), berjalan sepuluh atau dua puluh langkah dan berhenti (2), berjalan sepuluh atau… stop. Begitu kira-kira satu jam pertama yang harus kami lewati karena rupanya Agil masih sedikit kesulitan menyesuaikan napasnya, maklum hampir di setiap trip dia selalu ganti kerir (baca: pinjam kerir!), jadi gak aneh jika dia harus selalu melakukan penyesuaian lagi dan lagi :D.

Don Agiel

Don Agiel

Satu jam berjalan, dan luar biasa, pos 1 pun tak kunjung ditemukan. Sebelumnya kami memang sudah diwanti-wanti jika perjalanan via Bambangan ini salah satu yang terpanjang, terutama untuk menuju pos 1 saja dibutuhkan waktu hingga 2 jam berjalan dari basecamp. Akan tetapi, rasanya lelah perjalanan itu setimpal dengan pemandangan tepat di belakang punggung kami. Si kembar Sumbing Sindoro berdiri serasi seakan tengah terbang di atas awan. Di kejauhan terlihat gunung Merapi di Jogjakarta juga seakan mau eksis menampakkan ujung puncaknya. Belum pernah dalam pendakian lainnya kami disuguhkan pemandangan seindah ini sejak awal mula perjalanan.

Banyak sekali waktu istirahat yang kami curi pada jam-jam pertama ini. Wajar sih, karena 60 menit pertama memang selalu jadi waktu tersulit untuk menyesuaikan napas, irama jantung, dan derap langkah kami. Hamparan hutan pinus pun mulai terlihat di depan mata kami, dan tak terasa setelah lebih dari 90 menit berjalan saat kami beristirahat akhirnya kami melihat sebuah bangunan semi permanen berdiri tepat di atas kami. Itulah pos 1. Satu setengah jam untuk mencapai pos 1, sungguh melelahkan.

Baru sejam jalan sudah di atas awan lagi.

Baru sejam jalan sudah di atas awan lagi.

Di pos ini kami kembali bertegur sapa dengan rombongan 4 orang pendaki dari Bandung yang kami temui di basecamp tadi. *Lucunya, saya tidak pernah menyangka kalau ternyata beberapa minggu setelahnya saya bakal bertemu kembali dengan salah satu anggota rombongan tadi saat kami bertransaksi COD di Bandung, dunia memang sempit.* Kami menghabiskan waktu hanya sekitar 5 menit di sini sebelum akhirnya terus berjalan konstan sepanjang 5 jam seterusnya.

Di pos 1 ini juga kami terpaksa harus berpamitan dengan pemandangan indah dua gunung kembar di belakang kami, Sumbing Sindoro. Lebatnya hutan yang kami masuki setelahnya secara otomatis menutup 180 derajat pemandangan lapang yang sebelumnya kami miliki. Praktis, hanya pepopohan saja menemani perjalanan kami selanjutnya.

Kecilnya jumlah rombongan kami, hanya 2 orang (nyatanya jumlah 2 orang nampaknya belum cukup layak untuk dikatakan sebagai rombongan, haha) membuat irama perjalanan sangat luar biasa cepat. Perlu sekitar 90 menit berjalan menanjak dari pos 1 ke pos 2. Kami sendiri masih memerlukan beberapa kali istirahat kecil selama perjalanan ini, istirahat panjang sekitar 5 sampai 10 menit kami habiskan hanya jika sudah mencapai pos saja.

Selanjutnya, masih diperlukan waktu 90 menit lainnya untuk mencapai pos 3 berangkat dari pos 2 ini. Total sudah 4,5 jam dihabiskan untuk perjalanan dari basecamp ke pos 3 dengan catatan medan yang sangat sedikit atau bahkan hampir tidak ada bonus trek mendatar. Pos 3 tidak lebih dari sebuah medan datar yang hanya mampu memuat beberapa tenda kecil saja dan dikelilingi oleh hutan lebat di sekitarnya. Saat kami manapaki kaki di sana sudah terdapat dua tenda yang dibangun. Kami pun menyempatkan mampir dan disuguhi minuman jeruk panas oleh para “penginap” yang sudah ada di sana selama 2 hari lamanya.

DSC_0788

DSC_0795

Semua gunung punya cerita mistis tersendiri, akan tetapi gunung Slamet beda urusannya. Jalur via Bambangan sendiri cukup terkenal dengan banyak mitos-mitosnya terutama spot di pos 4 yang maha terkenal itu atau yang dikenal dengan pos Samarantu (hantu samar-samar). Dari namanya sendiri maksud dari tempat ini tentu sudah jelas. Banyak sekali cerita-cerita yang tidak mengenakkan didengar yang didapat dari mereka yang sudah menghabiskan satu malam di sana. Jika dibandingkan dengan gunung di Jawa Barat, jalur ini mirip Ciremai via Linggajati. Baik itu diukur dari tingkat kesulitan medan maupun nuansa mistis di setiap jalurnya.

Kami melangkah dengan mantap dari pos 3 menuju ke pos 4. Nuansa pendakiannya masih sama, pohon di mana-mana. Tidak ada bonus sama sekali. Jalanan kali ini lebih terjal dibanding jalur-jalur sebelumnya. Kabut mulai turun dan kami juga beberapa kali melakukan istirahat pendek di tengah jalur. Waktu menunjukkan pukul 12:30, perut mulai lapar tetapi kami baru berencana mengeluarkan alat masak di pos 5, masih kurang 2 pos dari lokasi kami beristirahat ini.

Satu jam sudah sejak kami berangkat dari pos 3 dan akhirnya kami melewati pos yang dinanti-nanti itu, pos 4. Tidak jauh beda dengan pos sebelumnya, pos 4 merupakan medan datar yang bisa dihuni oleh setidaknya 3 atau 4 tenda, bedanya memang tidak ada 1 pun tenda saat itu yang berdiri. Dalam perjalanan naik, dataran tersebut berada di sebelah kanan kami dengan beberapa pohon tua tinggi menjulang di sekitarnya. Kebetulan hanya kami berdua yang melintas saat itu, tetapi untung saja tidak ada nuansa atau gangguan aneh apa pun seperti yang diceritakan menyapa kami. Atau mungkin akan beda cerita jika kami melewatinya malam hari? Mengingat banyak cerita aneh yang terjadi di tempat ini kami berdua memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami tanpa menghabiskan istirahat panjang di sini, lagipula belum terlalu capek setelah istirahat panjang di pos 3 tadi.

Tema jalur pendakian masih sama setelahnya, menanjak dengan pohon di mana-mana. Udara saat ini terasa sedikit lebih lembab mengingat kabut mulai turun dengan pekatnya. Sementara, hawa panas tubuh tak tertahankan karena kami terus berjalan secara konstan tanpa banyak istirahat. Satu jam berlalu dari pos 4, kami mulai mendengar suara sayup-sayup di kejauhan. Ada yang bercengkrama, bernyanyi dan suara gaduh lainnya. Jam menunjukkan tepat pukul 14:00 ketika kami akhirnya tiba di pos 5.

Suasana hiruk pikuk sangat terasa di sana karena banyak sekali tenda yang dibangun di pos ini sampai-sampai medan jalur pendakian pun digunakan sebagai tempat mendirikan tenda. Kami segera mencari tempat datar, menyimpan kerir kami, menggelar matras dan mengeluarkan alat-alat masak kami dan terettt. Kami membagi tugas, Agil menyiapkan makanan sementara saya bertugas untuk membawa air yang terletak di sebuah lembah di sekitar pos 5. Lokasi mata air itu sendiri cukup jauh, harus turun terjal melewati beberapa turunan (turunan yang berubah jadi tanjakan ketika kita pulang). Tidak banyak menu yang dimasak, hanya nasi, sarden dan lauk sederhana lainnya.

Masak-masak

Masak-masak

Selesai makan dan sedikit dokumentasi (foto-foto), kami melakukan repack ulang peralatan kami. Tepat pukul 15:00, satu jam istirahat, kami melanjutkan perjalanan dengan target akhir pos 7. Kabut tebal menghiasi perjalanan kami saat itu. Vegetasi di perjalanan kami kali ini berbeda dengan hanya didominasi oleh tanaman-tanaman pendek, saya tidak tahu istilah ilmiahnya apa. Yang pasti, tidak ada lagi pohon-pohon besar yang menghalangi, kalau saja cuaca cerah saya bertaruh pemandangan di daerah sini tentu sangat spektakuler.

Biar sama-sama merasakan kabutnya, hehe

Biar sama-sama merasakan kabutnya, hehe

Niat hati berjalan lebih cepat, tetapi luar biasa, efek makan ternyata membuat beban berpindah dari kerir ke perut. Kami berjalan sangat lambat dengan langkah kaki kecil mencicipi tanjakan demi tanjakan. Tapi tak disangka, selang hanya setengah jam kami tiba di pos 6. Pos yang sangat kecil dan sepertinya hanya sebuah lahan datar yang cukup memuat 1 tenda saja. Tidak ada yang kami lakukan di sana karena kami memutuskan untuk segera lanjut ke tujuan akhir kami.

Setelah langkah konstan tanpa diduga ternyata jarak dari pos 5 ke pos 7 hanya memakan waktu satu jam. Tidak seperti pos-pos sebelumnya yang berjarak panjang, dua pos terakhir ini kami lewati dengan cukup cepat untuk ukuran nubie seperti kami ini.

Pos 7 ditandai dengan adanya shelter atau bangunan permanen. Suasana di sini, ramai. Menyita banyak waktu sebelum kami mendapatkan tempat mendirikan tenda. Hal itu karena suasana camp yang begitu ramai. Sempat ingin mendirikan tendan di bagian bawah pos 7. Ketika pertama ke sana tanahnya masih kosong, selang beberapa menit kemudian saat saya kembali tempatnya sudah full booked bagai hotel. Akhirnya saya kembali ke bagian atas, makin atas kami mencari lahan ke dekat kawasan hutan pinus tapi kami tidak menemukan tempat yang sesuai harapan. Satu-satunya tempat adalah tepat di belakang shelter tersebut, namun, tanahnya miring dan tepat di sebelahnya adalah lubang buatan yang sepertinya ditujukan untuk membuang sampah. Saya sendiri enggan gelar tenda di sini karena tanahnya miring, tapi Agil bersikukuh untuk menyerah dan segera membangun tenda. Saya pikir, tidak salah mendirikan tenda di sini dengan pertimbangan tempat lain pun sudah sangat penuh.

Pos 7

Pos 7

Kabut yang rajin menemani selama perjalanan kami tiba-tiba hilang dan pemandangan gunung Sumbing Sindoro yang tadi pagi kami lihat pun kini kembali terpampang jelas, bedanya ada keluarga awan besar menutupi kedua gunung itu. Sementara, gulungan awan tebal membentang jauh di bawah kami. Cuaca cerah saat itu, tetapi matahari tidak mampu datang menyinari tenda kami karena terhalang gagahnya tubuh gunung Slamet.

Sekitar jam 18:00 ketika saya terakhir melihat jam di tangan saya. Saat itu juga tiba-tiba kepala dirundung pusing. Entahlan, karena telat makan? Saya rasa tidak, alasan yang paling mungkin ditebak adalah penyakit ketinggian dan kurangnya adaptasi tubuh akibat waktu pendakian yang terlalu cepat. Fakta menarik pos 7 adalah, tempat ini berada di ketinggian 3.000 meter di atas laut, salah satu tempat tidur tertinggi di pulau Jawa! Mau merasakan sensasi tidur di atas ketinggian? Silakan coba sendiri, hehe.

Solusi paling tepat untuk mengatasi gejala mountain sickness ini adalah dengan makan (sudah) dan lalu, bisa ditebak, tidur.

Kriswanto, Andreas 2015

Selanjutnya di Summit Attack

Sebelumnya di Ojeg Rasa Taksi

On the way pos 1

On the way pos 1

Senja di pos 7

Senja di pos 7

Ojeg Rasa Taksi

Waktu menunjukkan sekitar pukul 3 dini hari saat kami diturunkan di terminal Purbalingga. Kami langsung disambut oleh tukang ojeg yang dengan gesit menawarkan jasanya. Saya sendiri sangat minim informasi tentang transportasi menuju Bambangan. Tetapi, Agil tahu bahwasannya ada bis mini yang bisa mengantarkan kita menuju daerah Bambangan. Namun, karena tiba terlalu pagi kendaraan umum lainnya belum tersedia.

25 ribu rupiah adalah harga yang ditawarkan oleh tukang ojeg tersebut kepada kami. “Ga bisa kurang, Mas?” tanyaku saat itu dan dia berkilah, “Jauh mas, jalannya juga nanjak!”. Ya, cukup masuk akal pikir saya, jarang sekali ada basecamp berlokasi di dataran rendah, jadi pasti jalan ke sana nanjak. Terpaksalah kami berdua naik ojeg dengan harga Rp. 25.000. Jika bukan malam hari, tentu kami tidak akan menggunakan jasa tersebut mengingat besaran ongkos yang harus dikeluarkan.

Dan, bah!!! Setelah hanya 30 menit berkendara di jalanan datar, akhirnya kami diturunkan di sebuah pertigaan. Kami merasa tertipu dengan pernyataan tukang ojeg tadi “Jauh mas, jalannya juga nanjak!” Tapi ya sudahlah, daripada kami tidak sampai sama sekali. Perjalanan harus dihentikan di sini karena alasan trayek.

Saya tidak begitu ingat kondisi sekitar dikarenakan hari masih gelap. Di sini kami (lagi-lagi) ditawarkan jasa oleh beberapa tukang ojeg yang bisa mengantarkan kami ke Bambangan. Dengan stelan kerir-kerir besar di punggung kami, rasanya setiap orang di sana bisa menebak bahwa kami akan pergi ke Bambangan.

Kami juga menanyakan besaran ongkos yang perlu kami keluarkan jika menggunakan jasa mereka. “40 ribu, Mas!” jawab salah satu di antara mereka. Alamak! Ongkos 2 kali ojeg jika digabungkan bakal sama dengan ongkos sekali bis balik ke Bandung, sahutku dalam hati. Setelah melihat ada sebuah angkutan kota terparkir di sana lantas saya bertanya, “Kalo angkot ada, Mas?”. “Ada mas, tapi harus nunggu penuh dulu.” Dengan biaya Rp. 15.000/orang, saya memilih untuk menunggu pendaki lain, yang mudah-mudahan datang dan berminat untuk diajak urunan menyewa angkot tersebut. Gila, kami hanya berdua, tidak mungkin menyewa angkot itu dengan biaya full.

Setengah jam berlalu dan tidak ada tanda-tanda pendaki lain yang akan datang. Jangankan pendaki, kendaraan yang lewat satu pun tidak ada saat itu. Sepi. Waktu menunjukkan pukul 4:00 sementara waktu tempuh ke Bambangan dengan ojeg adalah 1 jam. Jika dibiarkan pergi terlalu siang hanya untuk sekedar menunggu angkutan lain saya kuatir jika rencana pendakian hari pertama bakal amburadul. Akhirnya, kami menyerah dan terpaksa merelakan Rp. 40.000 lainnya kepada tukang ojeg tersebut. Total 65 ribu rupiah dikalikan dua orang dan kami mengeluarkan biaya Rp. 130.000, sungguh ojeg harga taksi.

Sedikit trauma kena tipu lagi, kami pun agak was-was ketika menaiki ojeg itu. Tapi, puji Tuhan! Kali ini kami bermitra dengan dua orang jujur. Tidak salah, jalanan menuju bambangan memang didominasi oleh tanjakan panjang, sampai-sampai salah satu motor dari tukang ojeg yang kami naiki memang terlihat melambat, susah payah melahap tanjakan yang ada di depan mereka.

Jaraknya, kalau saya gambarkan, memang sangat jauh, ya serius, jauh. Berangkat dari pertigaan tadi dengan suhu panas dataran rendah, saya sampai-sampai minta berhenti dulu karena terpaksa harus mengeluarkan jaket akibat suhu udara yang berubah drastis menjadi sangat dingin ciri khas kawasan pegunungan.

Di tengah kegelapan, bayang-bayang gunung Slamet berdiri gagah di sebelah kiri jalan. Cuaca cerah menyambut kedatangan kami meski waktu itu sedang anget-angetnya musim hujan. Tepat satu jam berkendara, kami tiba di sebuah desa yang dikenal dengan Bambangan. Bangunan permanen sudah banyak ditemukan di sini, jalanan pun beraspal dan sinyal 3G masih riang lalu-lalang di daerah ini. Pukul 5:00 kami tiba di basecamp Bambangan.

Kriswanto, Andreas 2015

Sebelumnya di Slamet, Sumbing, Sindoro?

Selanjutnya di The Day: Pendakian Slamet

Gunung Slamet dilihat dari basecamp Bambangan

Gunung Slamet dilihat dari basecamp Bambangan

Pemandangan hutan pinus di kaki Gunung Slamet

Pemandangan hutan pinus di kaki Gunung Slamet

Slamet, Sumbing, Sindoro?

Pendakian kali ini cukup unik, dikatakan unik karena hingga H-7 keberangkatan saya belum tahu kemana tujuan pendakian kali ini. Sempat bingung menentukan arah tujuan dikarenakan batalnya rencana pendakian Semeru saya yang kedua akibat harga tiket kereta yang melambung tinggi. Tandem pendakian saya kali ini sudah tidak asing lagi. Agil, sudah menemani 3 pendakian sebelumnya dan 4 tahun bersama di bangku kuliah, jadi tak heran walau meski hanya berdua saya merasa perjalanan kali ini tidak akan begitu njlimet.

Pasca batalnya keberangkatan saya ke Semeru, berbagai opsi muncul. Saya dan Agil sepakat untuk mengubah haluan ke arah Jawa Tengah. Dengan pemandangan yang tak diragukan lagi dan akses transportasi yang mudah, kami memilih Prau sebagai destinasi akhir tahun kami kali ini. Karena trek terlalu pendek (mumpung masih mudah, tidak salah menyiksa diri :D), kami menambahkan paket liburan kali ini dengan sedikit siksaan di gunung Sindoro. Kedua gunung ini masuk pertimbangan kami mengingat Agil sendiri memiliki rumah yang tepat berada di kaki gunung Sindoro sehingga banyak faktor seperti akomodasi, transportasi dan guide yang akan memudahkan kami jika kami memantapkan tujuan kami pada dua gunung ini.

H-4, tanggal 23 Desember 2013, saya melihat kemungkinan lain untuk mendaki gunung Slamet. Jarak antara gunung Slamet (Purwokerto) dan Sindoro (Wonosobo) sendiri tidaklah terlalu jauh. Secara personal, saya lebih mencodongkan diri untuk memilih gunung Slamet mengingat gunung dengan tinggi 3.428 mdpl ini merupakan yang tertinggi se-Jawa Tengah dan kedua tertinggi sepulau Jawa setelah Semeru (3.676 mdpl). Jadi, misi menapakkan kaki di tanah tertinggi Jawa Tengah ini akan melengkapi catatan saya lainnya setelah Ceremai (3.087 mdpl) tertinggi se-Jawa Barat, Semeru (3.676 mdpl) tertinggi se-Jawa, dan Slamet tertinggi se-Jawa Tengah, hehe. Ya, semacam koleksi pribadi mungkin :D.

Mulailah saya dengan rupa-rupa alasan meracuni Agil untuk mengubah arah destinasi kami. Mulai dari foto-foto mbah Google yang menawan hingga gelar gunung Slamet yang merupakan gunung tertinggi kedua se-Jawa juga saya cekoki.

H-2, tanggal 25 Desember 2013, tepat di hari natal, tanggal keberangkatan sudah didapatkan tetapi tujuan kemana kita pergi belum jelas. Setelah negosiasi alot, akhirnya tepat sore hari di hari Natal kami menetapkan tujuan pendakian kali ini ke gunung Slamet. Sempat terpikir untuk sekaligus melakukan ekspedisi Triple S yang tersohor itu, Slamet, Sumbing, Sindoro. Akan tetapi, melihat pertimbangan waktu yang tidak memungkinkan akhirnya kami mantap hanya berkunjung ke satu tujuan saja.

Jumat, 27 Desember 2013

Dengan rencana keberangkatan di sore hari, saya masih menyempatkan untuk jogging di pagi harinya. Tidak ada persiapan khusus atau macam-macam jika tandem pendakian saya Agil. Kami sendiri tanpa harus di-technical meeting-kan (bahasa yang agak maksa) lagi sudah tahu betul apa saja yang perlu dibawa, logistik apa yang harus disiapkan dan makanan apa yang perlu dibeli, ya semacam tektok saling mengerti karena sudah beberapa kali ngetrip bareng.

Kami akan melakukan pendakian ke Gunung Slamet via Bambangan. Sebetulnya ada beberapa jalur resmi untuk mencapai puncak Slamet, via Batu Raden, Guci dan Bambangan. Batu Raden merupakan pilihan yang paling kami hindari mengingat jauhnya jarak dan ekstrimnya medan, sementara Guci terlalu sepi. Bambangan dipilih karena pertama popularitas jalurnya, akan banyak pendaki lain yang melewati jalur ini (memudahkan kami kalau terjadi apa-apa), dan kedua kemudahan akses air sehingga kami tidak perlu menenteng banyak air jika melewati jalur ini.

Tepat pukul 17:00 masih di tanggal 27 Desember kami tiba di terminal Cicaheum. Tujuan pertama kami kali ini adalah kota Purwokerto. Ada banyak bis jurusan Bandung-Purwokerto, saat itu kami memutuskan menggunakan PO Budiman, dengan harga Rp. 85.000 kami juga memperoleh jatah satu kali makan berat di perjalanan. Setelah berkonsultasi dengan beberapa orang di dalam bis, akhirnya kami mengganti tujuan kami dari Purwokerto menuju Purbalingga dengan pertimbangan memangkas jarak yang lebih dekat. Dengan menambah biaya sekitar Rp. 10.000 kami diantarkan hingga terminal bis Purbalingga.

Tepat pukul 18:00 kami meninggalkan Bandung. Estimasi perjalanan adalah 8 sampai 10 jam hingga Purbalingga, kami berdua menghabiskan jam-jam awal di dalam bis dengan bercerita ngalor-ngidul mulai dari masalah kerjaan, kuliah, rencana trip berikutnya, sampai… sampai teman hidup. Tiba di Ciamis sekitar jam 10 malam kami dapat jatah makan malam yang sudah dibayarkan dalam tiket yang kami bayar. Dengan perut terisi ditambah lagi perjalanan malam, apalagi yang bisa kami lakukan selain tidur di dalam bis? *blank*

Kriswanto, Andreas 2015

Selanjutnya di Ojeg Rasa Taksi

Popularitasnya kalah dengan Edelweis, tetapi berbicara manfaat pohon Cantigi punya lebih banyak dibanding Bunga Abadi. Sebuah pohon dewasa akarnya mampu menahan beban puluhan kilo memungkinkan kita memijak pada akar kuatnya ketika mendaki, buahnya bisa dimakan saat kondisi survival, dan tanaman ini sangat kuat mampu bertahan di kondisi gersang puncak yang minim air Foto diambil di Puncak Slamet Desember 2013, erupsi Slamet tahun lalu konon menghanguskan vegetasi di sekitar puncak, belum diketahui apakah pohon ini masih pada tempatnya atau tidak.

Popularitasnya kalah dengan Edelweis, tetapi berbicara manfaat pohon Cantigi punya lebih banyak dibanding Bunga Abadi. Sebuah pohon dewasa akarnya mampu menahan beban puluhan kilo memungkinkan kita memijak pada akar kuatnya ketika mendaki, buahnya bisa dimakan saat kondisi survival, dan tanaman ini sangat kuat mampu bertahan di kondisi gersang puncak yang minim air
Foto diambil di Puncak Slamet Desember 2013, erupsi Slamet tahun lalu konon menghanguskan vegetasi di sekitar puncak, belum diketahui apakah pohon ini masih pada tempatnya atau tidak.

Day 3: Mahameru dan 2 Jam Jadi Orang Tertinggi se-Jawa

Napas Anggi begitu pendek, dia seperti terengap-engap di tengah tidur nyenyaknya. Suara hembusan napasnya begitu keras sehingga membuat saya tidak bisa tertidur malam itu. Dinginnya sudah berbeda sekarang, Kalimati benar-benar memiliki suasana yang berbeda dengan Ranu Kumbolo. Bunyi angin semilir sangat jelas terdengar. Tenda yang sebelumnya terasa hangat berubah menjadi dingin beku. Saya bisa membayangkan betapa rasa dingin menembus tulang teman saya Anggi karena dia tidak memakai sleeping bag hanya berbekal satu lembar kain sarung saja.

Tertidur tapi sadar, itulah kondisi fisik saya saat itu. Meski memejamkan mata saya sama sekali tidak bisa tertidur sore hingga malam itu padahal malam harinya saya harus memaksakan fisik saya untuk naik melakukan summit push ke Mahameru. Sedikit gelisah ada karena tidak bisa tidur nyenyak, ditambah suasana yang sudah semakin sepi membuat saya sedikit terserang semacam panick attack yang membuat psikis saya tidak bisa terpejam meski mata sudah dipaksa terus selalu memejam. Obrolan-obrolan dan juga nyanyian-nyanyian pendaki lain sudah terhapus oleh hamparan angin yang lalu lalang terdengar melintasi Kalimati. Gelap dan hening begitulah yang bisa saya gambarkan.

Akhirnya tepat jam 11 malam saya memutuskan untuk segera membuka mata saya. Perasaan ngantuk tetapi tidak bisa tidur ini sangat menyiksa saya sehingga saya memutuskan untuk membangunkan Rio yang ternyata juga memiliki pengalaman yang persis sama dengan saya. Rupanya kami berdua tidak bisa tertidur malam itu sehingga jadwal bangun untuk summit push yang sebelumnya jam 12 terpaksa kami majukan menjadi jam 11 malam.

Setelah sedikit bercerita tentang perasaan gelisah yang kami alami berdua, kami juga membangunkan Anggi. Datang bertiga, kami juga punya tujuan untuk datang ke puncak Mahameru dengan formasi yang sama. Tetapi, sungguh mengejutkan apa yang kami dapatkan selanjutnya. Anggi ternyata enggan untuk melanjutkan perjalanan ke Mahameru. Beragam bujuk rayu kami lakukan untuk memaksanya naik. Saya sendiri sangat menyayangkan jika sudah jauh-jauh dari Bandung tetapi dia tidak muncak. Tetapi, melihat kondisinya saat itu, dia terserang meriang akibat efek dari perjalanan sebelumnya, memang saya sendiri melihat jika kondisi fisiknya tidak mungkin dipaksakan lagi. Akhirnya, kami berdua pamit dan membiarkannya tidur kembali, berharap jika esok dia bisa lebih baik lagi.

Satu poin penting dalam peristiwa ini adalah, dalam pendakian mana pun, keselamatan selalu jadi nomor satu dan kembali ke rumah adalah tujuan utama dari setiap pendakian, bukanlah puncak. Bukanlah puncak yang kita kalahkan, tetapi ego kita yang perlu dikalahkan. Bagaimana kita bisa memendam hasrat untuk muncak ketika tiba-tiba ada badai datang menghadang, bagaimana kita bisa berani mengambil keputusan untuk tidak muncak ketika fisik tiba-tiba lemah. Kita harus tahu ukuran kekuatan diri kita sendiri. Percayalah, gunung bukanlah tempat terbaik di mana kita bisa menyerahkan nyawa kita!

Saya jadi yang pertama keluar tenda saat itu, sederhana karena saya tidak kuat sudah menahan pipis. Sesaat setelah menginjakkan kaki pertama saya pun tercengang. Suasana hening dan cenderung angker yang saya dapatkan saat di tenda berubah seketika! Langit begitu ramai dengan ribuan atau bahkan jutaan bintang-bintang yang bertaburan di alam semesta. Inilah kali pertama dalam hidup saya melihat langit yang begitu sesak dan penuh oleh bintang yang bersinar amat terangnya. Terangnya langit saat itu malah sempat mengalahkan rasa dingin yang berkecamuk dalam fisik saya. Entah berapa suhu yang tercatat saat itu, tetapi yang saya ingat adalah saya mengalami banyak getaran dalam setiap sudut tubuh saya ketika pertama kali keluar. Hanya sayang, momen indah ini tidak berhasil terekam oleh mata kamera karena saat itu peralatan rekam saya belum mampu untuk menangkap objek-objek di situasi gelap.

Dari kejauhan, terlihat sekumpulan porter yang tengah menyalakan api unggun. Beberapa darinya tengah memahat sejumlah kayu yang nantinya akan diberikan kepada pendaki yang bisa digunakan sebagai trekking pole. Perapian juga kami buat untuk membuat air panas yang nantinya akan kami jadikan sebagai teh manis hangat. Dalam pendakian, air berasa atau air manis cukup berguna sebagai power booster, haha, setidaknya dalam setiap pendakian puncak saya selalu membawa sebotol air berasa dan sisanya air mineral. Beberapa lauk yang sudah kami masak pada sore hari juga sengaja kami bawa. Beberapa bekal makanan yang kami bawa saat itu tidak banyak, hanya sosis, roti dan beberapa sachet minuman berenergi.

Setelah bekal siap, kami melakukan pemanasan, tetapi saya sendiri sedikit bingung karena mayoritas pendaki lainnya belum ada yang keluar dari tenda. Sempat terlintas dalam pikiran apakah hanya kami berdua saja yang akan melakukan perjalanan ke puncak? Jam menunjukkan 23:15 saat ada satu rombongan kecil di depan kami yang ternyata mulai melakukan pemanasan. Sedikit peregangan, mengencangkan tas, memasang headlamp, saya yakin mereka akan pergi ke puncak. Selesai melakukan berbagai persiapan, kami berdua mendekati kelompok tersebut dan jadilah kami melebur menjadi satu kelompok pertama yang memulai pendakian.

Kira-kira sepuluh orang jumlah kami, kamilah kelompok pertama yang memulai pendakian ke puncak Mahameru pada tanggal 6 Mei 2013 pukul 23:30, ya pukul 23:30 saat hari belum berganti, tidak salah memang. Meski kami kelompok pertama yang berangkat dari Kalimati, kami mendapatkan informasi dari porter bahwa ada juga satu kelompok pendaki yang sudah berangkat lebih awal dari Arcopodo. Saya sendiri hanya berbekal satu pencahayaan dari senter yang saya pegang sendiri. Sementara itu, Rio hanya ‘menebeng’ cahaya karena ternyata dia hanya membawa senter dengan lampu yang sudah mati dan itu baru kami ketahui saat kami sudah mendirikan tenda di Ranu Kumbolo pada hari pertama pendakian kami. Dengan sumber cahaya yang hanya berasal dari satu senter saja, kebetulan Anggi tidak membawa sama sekali senter, terpaksa berbagai kegiatan kami saat itu hanya dibatasi sampai pada jam 18:00, tujuannya, untuk menghemat cahaya senter satu-satunya ini.

Kami pun berjalan beriring-iringan rapi. Kelompok ini dipimpin oleh seseorang yang kalau didengar dari suaranya sudah lumayan cukup berumur, mungkin sekitar 30 tahunan umurnya. Saat pertama ditanya, ternyata dia pun baru pertama kali melakukan pendakian ke Semeru ini, untung saja, jalur sangat jelas meski malam hari.

Beberapa meter selepas start kami menuruni satu trek yang akan mengantarkan kami ke hutan lebat yang akan berakhir di Arcopodo. Sebetulnya, Kalimati bukanlah campsite terakhir yang terdekat dengan puncak, masih ada Arcopodo yang terletak di ketinggian 2900 mdpl setelah Kalimati. Hanya saja, akses air yang sangat sulit di sana menyebabkan Kalimati jadi tempat favorit pendaki sebelum mereka melakukan summit attack di malam harinya.

Memasuki hutan dengan pepohonan rindang, kami langsung disambut dengan banyaakk sekali tanjakan pembuka. Beban punggung di perjalanan saat ini sangat ringan, wajar saja seluruh barang yang tak terpakai kami tinggalkan di tenda kami di Kalimati sehingga gerak langkah kami menjadi sangat mudah. Saya dan Rio tepat berada di belakang leader kelompok kami saat itu. Tak lama setelah memasuki hutan, kami akhirnya berkenalan dan mengetahui bahwa dialah bang Boim. Rambut panjang, sedikit ikal, dengan usia yang sudah dewasa, rasanya tenaganya masih sangat kuat dalam pendakian ini terlebih dia masih merencanakan pendakian ke Welirang tepat setelah pendakian ke Semeru ini.

Trek di sini masih dihiasi oleh trek tanah dan di banyak jalur, akar pohon selalu jadi penyelamat kami yang membantu kami menaiki medan-medan yang mulai terjal di paruh perjalanan. Kelompok yang tadinya berjalan rapat kini mulai tercecer. Saya, Rio dan bang Boim menjadi grup depan yang sering kali harus berhenti menunggu pendaki lain merapatkan barisannya. Angin kencang yang sebelumnya selalu saya dengar kini mulai meredup. Mungkin pohon rindang di sini cukup berhasil meredakan angin tersebut.

Belum ada istirahat panjang yang kami ambil saat itu. Kalau pun berhenti, hanya sebentar dan tak pernah sempat untuk duduk meregangkan kaki. 45 menit berlalu tak terasa akhirnya kami tiba di Arcopodo, 2900 mdpl. Kami menemui dua tenda terpasang di tempat ini. Arcopodo sendiri tidak seluas Kalimati. Lebih mirip sebuah tempat yang sengaja dibuat rata oleh manusia agar tenda bisa dibangun di tempat ini. Sepertinya tidak lebih dari 10 tenda bisa dibangun di pos terakhir sebelum menuju puncak. Angin mulai terasa kembali berhembus di sini mengingat jarak antar pepohonan sudah semakin renggang di sini.

Di sini pula kami berdua memutuskan untuk berpisah dengan rombongan bang Boim. Rupanya dengan istirahat yang pendek sepanjang perjalanan ke Arcopodo cukup membuat jarak yang sangat jauh dengan rekan bang Boim yang tertinggal di kelompok belakang. Dia memilih untuk menunggu temannya itu, sementara saya berdua, bersama beberapa orang lainnya, memilih untuk terus melanjutkan perjalanan.

CIMG3863

Tiba di Arcopodo sekitar pukul 00:20

Check point berikutnya adalah Kelik, inilah batas vegetasi di mana dulunya Cemoro Tunggal berdiri. Cukup unik karena Cemoro Tunggal merupakan sebuah pohon Cemara yang tumbuh di tengah pasir Semeru. Dulunya, pohon Cemara ini selalu jadi acuan untuk arah turun dari Semeru. Sayang sekali, saat itu saya hanya bisa menikmatinya melalui foto karena Cemara tersebut sudah tersapu pada erupsi terakhir Semeru.

Kira-kira 15 menit dari Arcopodo tibalah kami berdua di Kelik. Di sinilah suasana berubah 180 derajat. Situasi pendakian dengan kontur tanah dan hutan rindang, biasa saya temui dalam pendakian sebelumnya. Tetapi, begitu memasuki pos ini semua berubah! Pasir abu khas gunung vulkanik mulai saya injak. Pepohonan yang sebelumnya rindang kini seakan hilang. Hanya langit dan juga bayangan gelap jalur menuju Mahameru yang bisa saya lihat di arah depan saya ini.

Rasa senang, antusias, tegang, takut dan kuatir mulai bercampur di sini. Saya senang karena di sinilah pertama kali saya benar-benar bisa memeluk langsung gunung Semeru. Antusias karena saya tak sabar ingin mengetahui bagaimana saya bisa menguji batas kemampuan saya di gunung tertinggi se-Jawa ini. Tegang, takut dan kuatir karena saya sudah mendengar banyak sekali cerita tentang beratnya menjalani trek yang akan saya hadapi ini. Hanya kami berdua saat itu, dengan langit malam dan gagahnya gunung Semeru berdiri di depan kami saat itu.

Dengan langkah pasti, kami berdua melewati Kelik atau batas vegetasi. Waktu itu sangat gelap, dengan bantuan satu-satunya senter yang saya miliki saya hanya melihat setapak jalur pasir yang begitu sempit! Meski masih cukup landai, tetapi saya coba berjalan bongkok dengan tangan yang sedikit memegang-megang jalur. Saya tidak berani berjalan tegak karena meski gelap saya memang bisa merasakan kalau kiri kanan saya saat itu jurang yang cukup dalam. Sekitar 10 meter berjalan kami tiba di medan sesungguhnya. Saya mulai bisa berjalan tegak saat itu.

Tidak banyak pemandangan yang bisa saya nikmati saat itu selain dari langit yang bertaburan bintang juga pemandangan senter pendaki yang berjalanan beriringan di atas dan bawah saya. Entah momen apa yang sedang terjadi saat itu. Di hampir setiap peristirahatan, saya selalu mendapati beberapa bintang jatuh. Bonus yang sungguh luar biasa kami dapatkan dalam perjalanan tersebut. Kawanan bintang di angkasa seakan jadi penghapus lelah kami.

Tak lama setelah itu, saya merasakan bahwa jalur yang kami lalui mulai lebih berat. Tanah yang kami injak rasanya mulai terus semakin terjal dan di beberapa jalur kami menemui bahwa kami seperti menghadapi tembok vertikal yang harus kami panjat. Di sini juga saya pribadi merasakan pengalaman yang banyak dituliskan oleh pendaki lain yaitu, naik 3 langkah turun dua langkah. Ya, saya mengalami cerita yang sama persis dengan itu! Langkah panjang yang harus saya ulurkan untuk mencapai satu titik selalu digagalkan oleh material pasir yang mudah sekali longsor.

Karena itu, tak jarang saya meletakan senter di tanah untuk tumpuan tangan yang bisa membantu saya untuk naik, naik dan naik. Pandangan atas dan bawah saya hanyalah pasir vulkanik. Jika teksturnya berupa batu saya yakin perjalanan bisa berlangsung lebih cepat. Hanya saja, kalau pun ada batu, batu itu berdiri di atas tumpukan pasir yang mudah sekali longsor. Karena itu, tak jarang memang beberapa batu pun ikut jatuh menggelinding ke bawah saat diinjak oleh para pendaki, cukup berbahaya jika batu yang turun adalah batu besar.

CIMG3865

Selfie sukaesih di jalur menuju puncak

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari dan saya lihat gunung yang berada di belakang saya masih sejajar dengan titik pendakian saya. Ketika melihat gambar di Google, saya memperhatikan jika dilihat dari puncak Semeru, maka gunung yang terlihat di Kalimati itu berada jauh di bawah puncak Semeru. Sementara, ketika jam 2 saya melihatnya, gunung itu masih terlihat lebih tinggi dari titik pendakian saya, menandakan bahwa perjalanan memang masih sangat jauh.

Perjalanan rupanya semakin berat. Tanah yang saya naiki semakin terasa seperti tembok vertikal yang menghalangi laju saya. Untuk menghemat fisik, saya dan Rio sering kali bertukar tas. Rupanya, walau ringan tetapi tas ini juga cukup membuat beban tersendiri ketika dibawa. Sedikit menguras fisik dengan bekal logistik yang kami bawa di dalamnya.

Angin kencang sangat terasa di sini. Kain yang saya pasangkan untuk menahan dingin di mulut seketika basah karena cairan yang keluar dari hidung saya tidak lagi terbendung. Fisik kami mulai lelah saat itu, tetapi di sisi lain, kami juga tidak bisa berlama-lama diam karena ancaman hipotermia. Suhu saat itu bisa dipastikan sangat dingin, tetapi kami berhasil menjaga irama gerak tubuh kami sehingga suhu dalam tubuh kami tetap normal. Tidak berkeringat, tetapi tidak juga kedinginan! Pasir-pasir vulkanik terasa seperti batuan es yang sangat dingin. Sangat dingin dan dinginnya bisa menembus sarung tangan yang saya pakai.

Melihat ke belakang, saya mulai mendapati bahwa titik pendakian kali ini sudah melewati tinggi gunung yang ada di Kalimati tersebut. Tetapi, rasanya puncak masih terlalu jauh untuk digapai. Kerlap-kerlip senter pendaki yang ada di depan kami masih terlihat jelas di kejauhan, artinya, masih tersedia jalan terjal yang harus kami cicipi saat itu.

Berbagai cara kami lakukan untuk terus bergerak, mulai dari 10 langkah berjalan lalu istirahat, 10 langkah berjalan lagi, istirahat lagi dan begitu seterusnya. Di tiap istirahat ketiga barulah kami mengeluarkan air untuk mencegah dehidrasi. Saya pun tidak pernah meneguk banyak air ketika berjalan, cukup satu atau dua teguk untuk membasahi tenggorokan saja sudah cukup.

Di bawah, terlihat sebuah senter milik seorang pendaki yang terus berjalan tiada lelahnya. Setiap kami istirahat dan melihat ke bawah, kami selalu melihat bahwa jarak pendaki tersebut makin dekat dan dekat.

Di titik inilah semuanya diuji. Di sinilah saat fisik kami habis dan hanya tinggal mental yang tersisa. Kaki ini rasanya sudah sangat berat melangkah walau hanya untuk jarak 3 atau 5 meter ke depan. Sementara itu, mental saya hancur saat itu. Rasa kesal dan tidak sabar menguasai pikiran saya, sebuah sikap yang tidak mencerminkan pendaki sesungguhnya. Istilah “menikmati perjalanan” tidak ada lagi dalam pikiran saya saat itu. Yang ada hanyalah puncak, puncak dan puncak. Yang saya tahu adalah puncak di mana semua penyiksaan ini berakhir. Ya, saat itu saya masih menganggapnya sebagai siksaan dan penderitaan yang harus saya alami untuk mencapai puncak. Pemikiran yang sangat sempit selalu timbul di saat fisik dan mental sudah sangat lelah.

Nyala senter yang ada di bawah kami semakin dekat, dekat dan dekat hingga pada akhirnya dia pun menyapa kami yang tengah beristirahat. Perawakannya kurus, tapi tubuhnya tinggi menjulang. Berbekal kerir dan juga dua trekking pole dia rupanya mantap melahap setiap trek yang ada di depannya. Tidak seperti pendaki biasa, karena saat ditanya ternyata dia berangkat dari Kalimati sejam lebih lambat dari kami, artinya dia punya speed yang jauh lebih cepat dari kami.

Sebentar bercengkrama kami akhirnya melanjutkan perjalanan bersama. Saya tidak tahu pasti jarak yang sudah kami tempuh, waktu sendiri sudah menunjukkan pukul 4:15 saat kami bertemu dengan sosok pria yang setelahnya kami kenal dengan nama Elang. Medan yang kami lalui setelahnya tidak lagi terjal. Lalu, tekstur pasir pun sedikit lebih kuat sehingga tanah yang kami injak juga tidak mudah longsor. Terlebih lagi, kami mendapatkan teman ngobrol baru. Saat kami lelah, dia pun tidak sungkan untuk menunggu kami. Dalam obrolan kami itu pun, dia membuat sebuah pengakuan yang membuat mental kami sedikit ciut. Rupanya, kali ini adalah kali ke-14 dia mendaki ke puncak Mahameru. Dia ternyata salah satu kru dari Jejak Adventure, sebuah EO yang mengadakan pendakian massal ke Semeru di tanggal yang sama kami naik.

Dengan bekal pengalaman yang sudah segudang, tentu trek yang buat kami sulit ini bagi dia tentu sudah sangat biasa. Karena itu, saat dia mengatakan bahwa “Puncak udah deket!” jadi seperti kekuatan tersendiri buat fisik kami yang sudah lelah. Bersama-sama kami pun melangkahkan kaki kami di sebuah tanah yang landai. Semakin landai hingga saya sendiri pun berhasil melihat sebuah kain yang sudah terkibarkan dari jauh sampai akhirnya saya sadar bahwa itulah bendera pusaka sang Merah Putih. Dia kokoh berkibar diterpa angin puncak Mahameru yang berlari kencang dari arah Timur saat itu. Tepat pukul 04:50 saya menapakan kaki saya di atap pulau Jawa, puncak para dewa. Perjalanan lima setengah jam yang luar biasa yang bisa mengubah cara pandang saya dalam setiap pendakian berikutnya.

CIMG3867

Sepertinya kami kepagian

Kami bertiga jadi 10 besar pendaki pertama yang tiba di puncak saat itu. Rupanya, rasa dingin langsung menyelimuti saya, wajar saja jika selama pendakian angin masih tertahan oleh gunung, begitu sampai di puncak tidak ada lagi sisi gunung yang berhasil menghalangi angin untuk langsung menyerang kami di sana. Kaki saya bergetar dan lucunya saya malah meminta Rio untuk segera turun kembali. Saya bahkan tak sempat untuk memikirkan foto-foto di bendera atau menghabiskan waktu lebih banyak lagi di sana, terlalu dingin!

Tetapi, situasi mulai mereda ketika saya berdua berjalan ke arah barat puncak di mana angin tidak lagi menghampiri kami secara langsung. Di sini sedikit lebih hangat, di tempat ini juga kami menunggu matahari muncul. Sampai akhirnya surya benar-benar muncul dan suhu di sini pun meningkat drastis berkat sinar matahari yang langsung mengusir dingin.

Semakin siang, semakin banyak pendaki lain yang berdatangan. Sedikit sekali raut wajah bahagia yang saya dapati ketika mereka pertama tiba. Yang ada, mereka tergopoh-gopoh, begitu berat melangkahkan kaki mereka bahkan di tanah landai sekali pun. Sepertinya fisik benar-benar terkuras dalam perjalanan menuju kemari.

Jonggring Saloka menjadi salah satu daya tarik utama di puncak ini. Para pendaki menunggu dengan sabar kawah aktif Semeru ini untuk mengeluarkan “wedhus gembel”nya. Konon, hembusan awan panas yang dikeluarkan kawah aktif ini sudah jauh lebih menurun intensitasnya. Jika di tahun-tahun sebelumnya hembusan tersebut bisa setinggi ratusan meter, kini tidak setinggi itu. Akan tetapi, atraksi Jonggring Saloka ini masih jadi salah satu sajian menarik yang selalu ditunggu-tunggu oleh para pendaki di situ.

IMG_1199

Jonggring Saloka lagi muncrat

Mencapai puncak dengan rasa puas, memeluk sang Merah Putih dengan bangga, menitikan air mata di puncak gunung adalah sebuah kumpulan adegan-adegan dramatis yang sudah saya rencanakan sebelumnya. Tetapi sayang, saya tidak mendapatkan itu semua. Entahlah, mungkin karena saya datang di saat yang tidak tepat, rasa dingin begitu sampai puncak rasanya membuyarkan timbulnya momen-momen dramatis yang banyak dialami oleh orang lain. Atau faktor lainnya, faktor mendaki tidak dengan hati. Ya, mendaki tanpa menggunakan hati, menjadikan puncak sebagai satu-satunya tujuan yang bisa meningkatkan gengsi. Itu yang hilang dari saya, sepenuh hati melakukan suatu perjalanan. Kini saya ingin kembali, mengulang kembali semua perjalanan itu, tapi dengan sepenuh hati, ya melakukan setiap detik perjalanannya dengan hati.

Sajian pemandangan di sini sangatlah luar biasa. Cuaca cerah tanpa awan saat itu. Ke arah selatan saya bisa melihat hamparan perkotaan dan pemukiman penduduk, rasanya itulah kota Malang. Di bagian utara, Arjuna-Welirang tampak jelas menemani puncak Mahameru di ketinggian. Melihat ke arah Timur Laut pemandangan tak kalah memukau. Hamparan hutan Bromo Tengger Semeru rupanya sangatlah luas, bahkan gagal menemukan satu pun perkampungan atau pemukiman penduduk yang terletak di alam raya ini. Hanya sekecil Ranu Pane saja yang terlihat. Masih di arah ini, di kejauhan saya melihat ada kepulan asap kecil yang ternyata keluar dari gunung Bromo. Kalimati terlihat seperti botak kecil yang terletak di tengah lebatnya hutan.

IMG_1220

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Indonesia itu indah, kawan!

 

7 Mei 2013 dan saya bersama banyak orang di puncak saat itu jadilah kami orang tertinggi se-Jawa selama kurang lebih 2 jam. Tepat pukul 7:00 kami memutuskan untuk turun kembali. Sempat bertemu bang Boim yang juga datang beberapa saat sebelum kami turun. Tepat di saat kami memasuki pintu turunan di puncak, kami pun akhirnya bertemu dengan mas Tedja dan mas Adnan. Ketika menyapa, mas Tedja sedang sibuk menggeret istrinya untuk naik dengan bantuan webbing, sungguh kerja sama yang luar biasa antara pasangan ini.

Saya turun dengan perasaan berbeda. Bangga, puas dan juga lega bercampur aduk. Saya pun dengan senyum lebar selalu menyemangati banyak pendaki lain yang masih bersusah payah untuk mencapai puncak. Banyak sekali pendaki yang masih terjebak di jalur puncak ini, bahkan tak sedikit pula yang gagal muncak dan memutuskan kembali.

Aktifitas turun kami diwarnai dengan banyak kegiatan selancar pasir. Trek yang curam juga tekstur permukaan pasir yang gembur membuat kami dengan mudah melakukan selancar pasir. Dengan kondisi seperti ini tidak heran jika kami bisa turun jauh lebih cepat ketimbang pada saat kami naik. jika perlu waktu 4 sampai 6 jam untuk menaiki trek pasir ini, maka untuk turun anda hanya perlu menghabiskan waktu 20 menit tanpa berhenti! Tetapi saya tidak mau terburu-buru, banyak waktu di mana saya dan Rio memutuskan untuk berhenti dan berfoto-foto.

Saat turun ke bawah tidak jarang saya melihat balik ke belakang. Dan waw, Semeru begitu gagah dengan hamparan pasir yang amat luas sekali. Pemandangan yang sungguh luar biasa mengingat pada saat pendakian saya tidak bisa melihat apa-apa. Pikir saya, jika saya melakukan pendakian pada siang hari mungkin saya tidak akan berhasil. Medan yang sangat ekstrem yang harus kita lalui dengan ujung jalan yang sama sekali tidak terlihat.

IMG_1239

Dasar yang sama sekali tidak terlihat

Saya dan rombongan yang lain saat itu berjalan melipir ke kanan saat tiba-tiba di depan kami ada seseorang yang menghadang perjalanan kami turun saat itu. Ternyata dia adalah seorang panitia pendakian masal waktu itu. Dia sambil berteriak-teriak memaksa kami menghentikan perjalanan kami hingga akhirnya dia memberitahu bahwa ternyata kami salah arah! Saat perbicangan bersama Elang dia memang sudah mewanti-wanti kami agar saat turun nanti kita lebih melipir ke kiri bukan ke kanan. Rupanya memang benar, patok yang menandai Kelik berada jauh di sisi kiri. Ternyata saya dan beberapa orang lainnya berjalan di jalur yang salah yang di ujungnya membawa kami ke Blank 75, sebuah jurang sedalam 75 m yang bisa mengantarkan kami langsung pada ajal.

Saya beserta rombongan lainnya pun berjalan memotong ke arah kiri. Jalur yang benar terlihat, tapi rupanya kami sudah tersasar cukup jauh. Saya sendiri melewati jalur yang sepertinya bekas aliran lahar. Cukup licin dan struktur pasir yang saya injak sangat rapuh. Sementara ketika melihat ke bawah, ternyata jalur ini juga bisa membawa saya langsung ke dasar jurang yang sama.

IMG_1247

Kalo gak beruntung bisa masuk sini, gan!

Turun dari puncak Semeru memang terlihat mudah. Tetapi, tidak adanya pepohonan atau pembeda dari satu tempat ke tempat lain ternyata bisa jadi malapetaka tersendiri, terlebih jika cuaca berkabut. Kita bisa saja disorientasi dan salah jalan tanpa menyadari bahwa kita sebenarnya berada di jalan yang salah. Sudah banyak kasus pendaki yang hilang saat turun dari puncak Semeru. Menariknya, jumlah orang yang hilang saat menuruni muncak jauh lebih banyak ketimbang saat menaiki puncak. Saya sendiri sangat bersyukur karena di saat yang tepat ada panitia pendakian masal yang rupanya sangat menyadari potensi bahaya ini.

Kembali ke jalur yang benar, saya pun tidak jauh lagi sampai di Kelik, batas vegetasi atau trek terakhir dari lautan pasir yang beberapa jam ini saya lewati. Betapa kagetnya ketika siang hari melewati Kelik ini. Area ini rupanya tidak lebih dari sebuah jalan kecil, mungkin lebarnya tidak sampai 1 meter, kiri kanannya ditemani jurang yang cukup dalam. Rasanya saya lebih baik melewatinya malam hari tanpa melihat sisi kiri kanan jurang tersebut.

Saat siang hari, semua keindahan Semeru terbuka. Saya melihat ke belakang ke arah puncak dan betapa saya menyadari bahwa kita hanyalah semata-mata makhluk kecil. Puncak yang terhampar di depan mata saya bagaikan lukisan alam yang tercetak rapi tanpa cela. Ratusan pendaki yang hilir mudik di jalur tersebut tidak terlihat sama sekali, memperlihatkan betapa besar dan megahnya ciptaan Tuhan satu ini.

IMG_1249

Mahameru, berdiri dengan megahnya!

Memasuki hutan Arcopodo, kami berdua berjalan sangat amat lambat. Bekal tersisa hanyalah sebotol minuman energi. Dengan berjalan perlahan saya dan Rio tiba di Kalimati sekitar pukul 10:30. Tiba di tenda, kami senang karena Anggi sudah kembali sehat dan tengah memasak menyiapkan hidangan untuk kami berdua yang sudah lelah melakukan perjalanan pulang pergi selama 11 jam. Kelelahan yang terbayar lunas oleh keindahan gunung Semeru yang saat itu kokoh berdiri tanpa ada gangguan cuaca yang berarti.

Sebelumnya di, Mati-matian di Kalimati.

 

Bonus

IMG_1158

Jump, 2 detik jadi orang tertinggi se-Jawa

IMG_1214

Lukisan alam, no edit

IMG_1161

Bayangan pucuk puncak Semeru

IMG_1162

Jumpalitan

IMG_1326

3, 2, 1 Jump!

IMG_1230

View dari sudut lain

IMG_1173

Mereka yang berhasil

IMG_1137

Arjuno-Welirang dari kejauhan

Day 2: Ungunya Oro-oro Ombo dan Nanjaknya Cemoro Kandang

Saya tiba-tiba terbangun dari lelap tidur saya. Waktu di jam tangan saya menunjukkan jam 5 subuh tanggal 6 Mei 2013. Saya sadar, di jam-jam seperti ini biasanya keadaan masih cukup gelap ketika saya tinggal di Bandung. Tapi, ada semacam rasa penasaran saat itu yang mendorong saya untuk bergegas bangun, membuka tenda dan melihat sekitar, ritual yang selalu saya lakukan di tiap pendakian :D

Dan ternyata, feeling saya sama sekali tidak salah saat itu. Sleting tenda yang tepat berada di pertengahan tenda langsung saya buka. Astaga… Kapan terakhir kali kalian semua melihat pemandangan seindah ini saat pertama membuka mata kalian di pagi hari? Rasanya ini kali pertama saya mengalami kejadian seperti ini, kejadian yang hanya bisa kita dapatkan ketika kita bersatu dengan alam bebas bersama kehidupan liar di luar sana.

Langit berwarna kemerah-merahan saat itu, sepertinya matahari sudah muncul di wilayah Indonesia yang lebih timur. Hanya saja, matahari di Ranu Kumbolo sepertinya masih tertutup dua bukit besar yang berdiri sejajar yang langsung menyambut saya saat membuka tenda. Hasilnya, keadaan di sini masih cukup gelap hanya saja berhiaskan langit terang dengan efek alamiah yang sangat luar biasa indahnya. Suasana sunyi saat itu karena baru saya dan beberapa pendaki saja yang sudah bangun dan siap menyambut pagi di Ranu Kumbolo. Ah, rasanya tidak ada kata yang bisa menggambarkan perasaan saya waktu itu, jauh lebih baik kalau kalian sendiri yang langsung mencobanya!

IMG_0964

Bakal super romantis kalo bisa dinikmatin bareng kekasih, gan :D *gambar asli tanpa edit

IMG_1010

Prototype nya surga mungkin

Ranu Kumbolo jadi tempat yang cocok buat bermalas-malasan saat itu. Tempat sejuk, pemandangan indah, makan dan camilan, kurang apa lagi? Tapi kami pun harus melanjutkan perjalanan kami berikutnya ke Kalimati. Tepat pukul 10 pagi, kami jadi rombongan terakhir yang membereskan tenda dan siap berangkat sementara banyak dari pendaki lainnya sudah berangkat lebih dulu, baik itu mereka yang ke arah Kalimati maupun pulang ke Ranu Pane.

 

IMG_1021

Satu-satunya gambar di mana kami lengkap

Setelah disuplai nasi, lagi-lagi kurang matang, dan beberapa lauk seperlunya, kami bertiga berangkat bersama melangkahkan kaki kami melibas tanjakan maha terkenal yang berada tepat di depan kami, Tanjakan Cinta. Jika di film atau gambar, tanjakan ini memang terlihat kecil dan cetek sekali, rasanya gak beda dengan melewati gedung 5 lantai dengan berjalan kaki, haha, anggapan yang salah. Percayalah, dengan fisik yang sudah terkuras, ditambah beban kerir yang bertambah berat, serta tanjakan yang kalau dilihat secara langsung ini sangat tinggi menjulang, perjalanan 10 menit ke depan akan jadi perjalanan menanjak yang cukup melelahkan setelah leyeh-leyeh di Ranu Kumbolo.

Terlihat dari bawah, banyak sekali pendaki yang berhenti setelah melewati setengah jalan. Pikir saya, apa seberat itu? Setelah dijalani ternyata memang Tanjakan Cinta ini merupakan shock therapy yang ampuh buat memulai perjalanan kita di hari kedua ini. Rentang waktu yang dihabiskan untuk melibas tanjakan ini bervariasi, dari yang hanya hitungan 3 menit, 5 menit, 10 menit sampai 15 menit tergantung seberapa banyak kita berhenti di tengah jalan, haha. Saya bersama Rio saat itu berhasil melewati tanjakan ini dengan konstan tanpa berhenti, walau tanjakan ini benar-benar membuat kami ngos-ngosan. Sementara itu, Anggi tertinggal jauh di belakang…

CIMG3829

Padahal baru berapa meter…

Beberapa meter terakhir dari Tanjakan Cinta terasa sangat terjal. Saya pun memaksakan langkah saya untuk terus naik, walau langkahnya tidak selebar saat berjalan di tempat datar, yang penting tidak berhenti, itulah trik saya untuk terus melahap tanjakan yang ada, langkah konstan, kecil dan pantang stop. Dua, tiga, empat langkah dilalui dan sampailah saya di puncak tanjakan ini. Berjalan datar beberapa meter ke arah depan dan waw… Suguhan yang diberikan selepas menyelesaikan tanjakan ini sangatlah luarrr biasaaa. Kita tiba di sebuah hamparan savana luas, berapa lapang sepak bola yang bisa dimuat di sini saya tidak tahu. Inilah savana Semeru yang tersohor itu, Oro-oro Ombo.

Untuk bisa melewati ladang luas itu kita masih perlu menuruni bukit yang cukup terjal, ibaratnya, sudah naik capek-capek dari Tanjakan Cinta kita masih harus turun kembali. Tanpa harus turun, pemandangan dari puncak bukit ini pun sangatlah luar biasa. Terhampar di bawah sana trek lurus sepanjang kurang lebih 1 km yang harus kita lewati sebelum mencapai Cemoro Kandang. Untuk mencapai pintu hutan Cemoro Kandang ini rupanya kita harus membelah sebuah ladang rumput berwarna keungu-unguan. Awalnya saya mengira bahwa itu bunga lavender karena warnya serupa. Setelah ditelusuri lebih lanjut ternyata itu merupakan sebuah hama yang bisa mengganggu vegetasi asli taman nasional BTS (Bromo Tengger Semeru). Puncak Mahameru juga terlihat jelas dari sini, warna abu, gagah, walau masih sedikit tertutup anak gunung yang ada di depannya.

IMG_1025

Indonesia, ya ini Indonesia, Bung!

Saat kami menikmati panorama spektakuler ini, Anggi, personil kami lainnya, datang dengan wajah yang sudah tak mengenakkan. Dia jadi korban terjalnya Tanjakan Cinta rupanya. Buat dia, 4 jam ke depan mungkin akan jadi perjalanan terberat dalam hidupnya, haha.

Beres menikmati istirahat singkat kami pun bergegas melanjutkan perjalanan kami dan menuruni bukit tersebut. Turunan yang teramat terjal menurut saya. Sifat perjalanan di hari kedua ini jauh berbeda dengan hari pertama, saya harus membuka 30 menit pertama saya dengan tanjakan dan turunan yang sangat ekstrem. Karena itu, ada baiknya kita melakukan peregangan dan pemanasan yang serius sebelum kita melewati Tanjakan Cinta itu.

Di sinilah rombongan kecil kami terpecah, ya setidaknya sebut saja kami rombongan mini. Anggi yang rupanya disiksa oleh Tanjakan Cinta, harus melewati turunan ini dengan cukup lama. Maklum saja, ini bukan turunan biasa yang bisa kita nikmati, treknya cukup curam sehingga perlu lutut yang kuat untuk menahan beban turunan ini, dan sepertinya Anggi tidak memiliki itu semua :D Selagi menunggu, saya menyempatkan diri untuk mengabadikan keindahan alam di sini.

Perjalanan 1 km ke depan jadi perjalanan yang luar biasa. Kami membelah sebuah hamparan ladang rumput yang membentang luas. Saat itu bulan Mei, tinggi dari ilalang tersebut setinggi dada orang dewasa, suasana yang cukup eksotis yang jarang sekali ditemui di belahan kota mana pun. Pada puncak musim kemarau seperti Juli atau Agustus, tinggi ilalang tersebut bisa melebihi tinggi orang dewasa, sebelum pada bulan berikutnya ilalang tersebut terbakar dan menyebabkan kawasan Oro-oro Ombo ini jadi hamparan gersang, namun tetap eksotis. Trek di sini terlihat sangat jelas, jadi setinggi apa pun ilalang yang ada di hadapan kita, mudah-mudahan kita bisa sampai selamat di gerbang Cemoro Kandang.

IMG_1048

I Love Indonesia

Selepas melewati taman ilalang tersebut, saya dan Anggi menyempatkan diri melipir ke arah kanan keluar dari jalur. Ya, sebelumnya kami sepakat bahwa kami akan ‘setor’ terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Kalimati. Tempat di sini sangat pas, sepi, jauh di luar jalur resmi sehingga jadi tempat yang cocok untuk bersemedi. Tempat yang cukup nyaman mengingat di hari sebelumnya saya sudah terlalu sering menemukan ‘ranjau darat’ di Ranu Kumbolo. Sementara saya dan Anggi bergantian bersemedi, Rio melanjutkan perjalanannya dan sepakat menunggu kami di depan pos Cemoro Kandang.

Dengan tenaga yang terbarukan, kami berdua optimistis dan siap untuk melahap trek Cemoro Kandang. Sekedar info, saat itu saya belum tahu dan tidak memiliki gambaran sama sekali akan trek Cemoro Kandang yang akan saya lahap tersebut. Kami berdua jalan melewati jalur trek resmi dan mendapati Rio tengah tertidur pulas di dekat papan informasi, cukup pulas menunggu kami yang rupanya cukup banyak menghabiskan waktu untuk ‘bersemedi’.

Suasana pendakian siang itu sangat ramai, terutama jalur yang mengarah ke Kalimati, cukup padat! Sedangkan jalur sebaliknya ke Ranu Kumbolo, sepi, dan terlihat tidak ada satu orang pun yang berjalan ke arah danau tersebut.

Kami terus berjalan beriringan, melewati kawasan hutan Cemoro Kandang. Nama hutan ini juga sepertinya memang diambil dari karakteristik hutan ini yang didominasi oleh pohon-pohon cemara, gak salah memang orang menamainya kadangnya pohon cemara. Lepas dari pos pintu masuk hutan ini, ditandai dengan papan informasi yang terpasang jelas, jalanan masih cukup landai. Kalau pun menanjak, hanya sedikit dan nyaris tak terasa. Sekeliling saya hanyalah tumbuhan yang berkumpul tidak terlalu rindang. Meski jalanan belum terlalu menanjak, tapi tim kami agak disibukan oleh stamina Anggi yang drop total. Dia sering kali tertinggal di belakang, dengan gantungan botol yang terikat di kerirnya, bebannya memang cukup berat, sering kali saya dan Rio menawarkan untuk berbagi beban, tapi sesering itu juga dia menolak. Mukanya sudah pucat, padahal kami baru berjalan 10 menit lepas dari pos Cemoro Kandang. Meski stamina kami berdua masih prima, tetapi sebagai tim saya dan Rio selalu memutuskan untuk berjalan beriringan bersama Anggi.

Ektremnya, mungkin setiap dua puluh langkah kami harus berhenti, setelah lama beristirahat, kami melanjutkan perjalanan kami dengan hanya memberikan dua puluh langkah baru dan setelah itu istirahat kembali, begitulah seterusnya. Cemoro Kandang seakan jadi mimpi buruk saya pada hari itu setelah beberapa menit berjalan ternyata kami dihadapkan bukit yang tak berujung saat itu. Saya tahu jika titik pos berikutnya adalah Blok Jambangan, tetapi dengan tumbuhan yang makin rindang menghiasi kiri-kanan saya dan juga sekumpulan pendaki-pendaki yang terlihat di kejauhan di ujung bukit, sempat membuat mental saya sedikit drop waktu itu. Belum lagi, fisik salah seorang teman kami saat itu pun betul-betul drop. Terkadang, sempat saya ragu apakah Anggi bisa terus menjaga kesadarannya atau tidak, tetapi setiap kali ditanya, dia selalu memastikan bahwa dia kuat dan baik-baik saja, entah karena gengsi, sebuah hiburan atau memang karena memang dia benar-benar mampu dan masih menyimpan tenaga cadangannya.

 

Meski treknya makin berat, tetapi Cemoro Kandang ini juga memberikan banyak sekali pertemuan dengan pendaki lain. Trek yang berat ini memaksa kami untuk melakukan banyak istirahat bersama pendaki lain yang kelelahan, alhasil banyak juga obrolan yang kami lakukan saat itu. Kelompok kami juga bertemu dengan pendaki dari beragam latar belakang mulai dari Rio yang tak sengaja bertemu seseorang yang berasal dari kampungnya yang sama, Jambi, Kayu Aro, lalu ada juga seorang pendaki kawakan berumur 48 tahun yang tak sengaja menjadi anggota tambahan kami pada perjalanan kali ini. Kontraktor, mahasiswa dan banyak lagi.

Setelah berjalan melewati tumbuhan setinggi pinggang, saya saat itu melewati sebuah bekas aliran lahar. Sempat mengira jika jalan berikutnya adalah mengikuti bekas aliran ini, tetapi di sisi sebelah kanan ternyata ada sebuah jalan kecil yang mengarah ke blok Jambangan. Melewati bekas aliran lahar tersebut, jalan ternyata semakin tak bersahabat. Entah trek yang semakin menanjak atau stamina saya yang semakin terkuras waktu itu. Perjalanan terasa sangat berat, nafas terasa sesak dan yang pasti sering sekali saya harus berhenti, selain memang menunggu Anggi yang selalu tertinggal di belakang, fisik saya juga mulai lelah saat itu. Suasana sekitar tidak terlalu jauh berbeda sekarang, hanya saja, jurang di sisi kanan nampaknya semakin dalam, tanda bahwa kami saat itu memang sedang melakukan pendakian. Oro-oro Ombo juga terlihat dari kejauhan, nampak seperti sebuah hamparan karpet dari kejauhan.

Kombinasi lelah fisik dan mental mencapai klimaksnya di sini. Walau sebelumnya pernah beberapa kali mendaki, tapi baru kali ini saya memiliki kesempatan untuk mendaki sambil menenteng kerir yang beratnya bikin ampun-ampunan. Fisik sudah sangat lelah, terlebih mental pun tidak cukup membantu saat itu. Setiap kali beristirahat, saya selalu menatap ke depan, menatap pada sebuah hamparan bukit luas yang tertutup tumbuhan hijau, yang berdiri dengan tegapnya tetap di depan muka saya. Dan yang membuat mental selalu drop adalah, saya selalu melihat sosok kerir yang ditenteng oleh pendaki berada di ujung bukit ini, artinya perjalanan menanjak masih jauh walau betis ini nampaknya sudah tak mampu melangkah lagi.

Di titik ini, grup kecil kami ini pun tercecer. Rio yang punya fisik lebih kuat memutuskan untuk meninggalkan kelompok dan berjalan sendiri. Awalnya saya masih menguatkan diri untuk menemani Anggi di belakang, takut terjadi apa-apa melihat muka dia yang sudah semakin pucat dan gerakannya melambat. Setiap kali ditanya, dia selalu menjawab “tidak apa-apa” meski saya tahu pasti bahwa fisiknya sebenarnya sudah tidak mumpuni lagi untuk meneruskan perjalanan.

Setapak demi setapak langkah saya, akhirnya sekitar jam 2 siang waktu itu saya tiba di sebuah lahan datar luas tempat di mana cukup banyak juga pendaki lainnya yang sedang beristirahat. Saya tidak menemukan Rio di sini, pikir saya dia sudah jauh berada di depan kami. Sementara itu, di sini juga saya memutuskan untuk terpisah dari Anggi. Dia sendiri sudah menyanggupi untuk pergi sendiri, tidak enak selalu memperlambat gerak jalan saya, dia pun akhirnya memaksa saya untuk berjalan duluan menuju Kalimati. Sesuatu yang salah sebetulnya, walau arus pendakian saat itu ramai, tetapi meninggalkan seorang yang fisiknya tidak prima saat pendakian bukanlah hal yang dianjurkan. Di sinilah arti dari kerja sama tim diuji, dalam setiap pendakian janganlah kita hanya terfokus pada satu tujuan kita. Lebih dari itu, sebaiknya kita menikmati proses perjalanan kita, apa pun situasi yang dihadapi. Sayang sekali, saya gagal saat itu dan lebih mementingkan ego saya yang ingin buru-buru sampai ke Kalimati dan segera merebahkan tubuh saya. Sebuah pelajaran berharga yang bisa saya petik saat itu.

Tidak jauh dari tempat peristirahatan itu, setelah melewati beberapa tanjakan lainnya, akhirnya saya tiba di Blok Jambangan. Plong rasanya, setelah 3 jam lebih melewati tanjakan non-stop ala Cemoro Kandang saya tiba juga di sebuah tempat datar. Saya lega karena saya mengetahui perjalanan berikutnya akan jauh lebih datar. Blok Jambangan sendiri merupakan sebuah puncak punggungan gunung yang memisahkan Oro-Oro Ombo dengan Kalimati. Secara matematis, perbedaan tinggi dari Oro-oro Ombo dengan Kalimati hanya 300 meter, tetapi untuk menuju ke pos terakhir sebelum Puncak ini, kita harus melewati sebuah gunung yang menghalangi jalan.

Blok Jambangan adalah puncak dari punggungan gunung tersebut. Tempat ini ditandai dengan area yang lebih terbuka. Jika Cemoro Kandang adalah kawasan hutan lebat, maka di Blok Jambangan ini jauh berbeda. Di sini juga puncak Mahameru bisa terlihat dengan gagah dan jelasnya jika cuaca sedang cerah. Di sini juga anda mulai bisa menemukan banyak sekali tanaman Edelweis.

Saya sempat beristirahat di bawah pohon Edelweis sambil berteduh dari matahari yang saat itu sedang muncul. Di titik inilah saya baru bisa mengeluarkan seluruh peralatan kamera saya karena sebelumnya medan yang sangat melelahkan membuat saya bahkan malas untuk mengeluarkan kamera dan mengabadikan momen.

CIMG3842

Jambangan, sebuah area terbuka di mana kita bisa melihat puncak Mahameru berdiri dengan gagahnya

Setelah itu, saya kembali melanjutkan perjalanan mengikuti trek yang sudah sangat jelas terlihat. Sendirian saya memasuki hutan melewati trek menurun untuk menuju Kalimati. Sekitar 10 menit berjalan saya bertemu kembali dengan Rio yang sudah sangat santai menunggu di bawah papan informasi yang memberitahu bahwa kami akhirnya tiba di Kalimati.

Tepat pukul 3:30 sore kami berdua tiba di Kalimati 2700 mdpl. Kesan pertama yang saya ingat saat itu adalah, dingin. Cuaca tidak begitu mendukung waktu kami tiba di sana, seharusnya inilah titik terakhir di mana kita bisa menikmati puncak Mahameru dengan sangat jelas. Tetapi, saya tidak melihat apa-apa selain dari kabut yang hilir mudik melewati kawasan Kalimati ini.

CIMG3852

Kalimati, namanya gahar, ditambah susana dinginnya

Dingin, ya dingin, ditambah angin yang bertiup dari arah timur membuat suasana di sana saat itu sangat dingin, walau waktu baru menunjukkan pukul 4. Tenda kami pasang, dan peralatan memasak kami keluarkan. Beberapa botol air yang kami bawa dari Ranu Kumbolo sengaja kami keluarkan. Tetapi, setelah saya melihat banyak sekali rumput dan ranting yang tertinggal dalam air tersebut, saya pun enggan meminumnya.

Kami mengikuti saran seorang bapak paruh baya penjaga warung Nasi Rawon yang menyarankan agar kami “membawa air dari Ranu Kumbolo buat stok air di Kalimati, supaya kalian bisa istirahat penuh di Kalimati, nggak usah turun jauh-jauh ke Sumber Mani.” Kami pun mengikuti saran dia dengan membawa banyak sekali persediaan air yang kami bawa melewati Tanjakan Cinta dan juga Cemoro Kandang yang treknya aduhai. Tetapi, setelah didapati airnya kotor saya dan Rio enggan meminumnya. Akhirnya, seluruh air tersebut kami buang lalu Rio memutuskan untuk turun sendiri menuju Sumber Mani bersama beberapa porter yang hendak mengambil air. Sementara itu, saya tidur sejenak.

Di tengah tidurnya saya, Anggi akhirnya datang berhasil menemukan tenda kami, kira-kira selang waktu 30 menit dari pertama kami datang ke sini. Wajahnya sudah tidak karuan, dia yang biasanya paling gesit justru langsung menyimpan kerir dan tidur di tenda. Saya tahu pasti perjalanannya tadi sangat berat dan menguras tenaga, sehingga dia yang biasanya paling rajin memasak air dan lauk, akhirnya harus tergeletak tidur meninggalkan kami yang kelaparan.

Tak lama setelah itu, Rio akhirnya tiba. Saya sendiri kaget karena dia datang begitu cepat. Informasi sebelumnya yang saya terima perlu waktu sekitar 45 menit untuk menuju Sumber Mani, tapi faktanya ternyata jaraknya tidak terlalu jauh dan hanya memakan waktu sekitar 50 menit pulang pergi untuk mengambil air yang sangat segar dari Sumber Mani.

Waktu berjalan cepat sore itu, setelah memasak kami pun menyiapkan peralatan summit attack kami dan segera bergegas tidur walau waktu baru menunjukkan pukul 6 sore!

Kriswanto, Andreas 2014

Selanjutnya, Summit Attack Semeru 3676 mdpl.

Sebelumnya, di Day 1.

IMG_1063

Halaman depan Semeru dengan banyak tanaman Edelweis yang tersebar di mana-mana

Day 1: Semeru Kami Datang!

Tepat setelah turun dari truk, kami berpisah dengan rombongan mas Tedja. Katanya, mereka baru akan memulai perjalanan besok pagi. Cukup sedih juga karena artinya kami kembali hanya bertiga lagi dan lagi untuk melewati perjalanan panjang ke Semeru ini.

Berjalan sekitar 200 meteran, kami tiba di sekretariat atau pendaftaran atau loket mungkin namanya. Saya sendiri membawa sepucuk kertas yang sudah saya cetak ketika masih di Bandung. Nama kertas itu adalah, kertas booking atau apalah namanya saya lupa, hehe. Kebetulan website pengelola TN BTS baru saja diluncurkan ketika saya hendak ke Semeru, karena itu sistem pendaftaran online pun dijalankan.

CIMG3752

Waktu itu, biaya masuknya lebih murah daripada biaya parkir di mall

Sistem pendaftaran online ini menurut saya sangat bermanfaat, sangat bagus sehingga kita, yang berasal jauh dari Semeru bisa mengetahui kuota pendakian apakah sudah penuh atau masih tersedia. Kebayang ‘kan kalau sudah jauh-jauh dari Bandung lalu sampai Ranu Pane disuruh pulang lagi karena kuota pendakian penuh? Sistem yang lebih professional sudah berhasil dijalankan oleh TN Gede-Pangrango dalam hal booking online ini.

Tapi betapa kagetnya saya ketika petugas di sana sama sekali tidak menanyakan kertas booking tersebut. Dan mungkin ini juga yang menyebabkan kenapa pendakian ke Semeru selalu membludak terutama di musim liburan. Sistem online booking ini tidak sepenuhnya berfungsi. Dan nahasnya lagi beberapa bulan setelah perjalanan situs resmi TN BTS di mana dulu saya melakukan booking online ternyata sudah diretas dan sudah tidak aktif lagi. Tetapi, update terbaru memperlihatkan kalau sistem kuota lewat booking online ini sudah kembali berjalan. Semoga pelaksanaannya bisa semakin jauh lebih baik.

Oke kembali ke cerita, sekitar 1 jam kami mengurusi administrasi. Umm, waktu yang cukup cepat karena waktu itu pos pendaftaran masih kosong dan hanya ada satu grup pendaki lainnya yang mendaki bareng dengan kami. Sekitar pukul 1, kami melipir ke sebuah warung untuk mengisi perut. Di sekitar Ranu Pane banyak sekali warung-warung yang menjajakan jajanan atau makanan berat khas sana. Saya juga mencoba nasi rawon, salah satu nasi rawon terenak yang pernah saya makan saat itu.

Tepat pukul 13:30, saya, Anggi dan Rio pun berkumpul, berdoa bersama sebelum akhirnya melakukan perjalanan kaki yang ditunggu-tunggu ini. Kami berpamitan kepada bapak-bapak penjual nasi rawon itu. Mereka menitipkan pesan kepada kami agar terus selalu bersama. Mungkin mereka juga merasa sedikit iba karena kami hanya bertiga, kuatir takut terjadi apa-apa jika kami harus terpisah, hehe. Mayoritas pendakian ke Semeru waktu itu dilakukan oleh kelompok-kelompok besar, mungkin hanya kamilah kelompok terkecil saat itu.

Berbekal tas 34 liter saya membawa bawaan yang cukup berat, malah terkesan overload dengan fly sheet tenda yang sengaja diikatkan diluar tas sebelah matras. Bahkan jaket pun harus terpaksa saya pakai karena sudah bingung di mana lagi harus menyimpannya. Anggi yang notabene punya banyak pengalaman mendaki terlihat lebih baik dengan susunan kerir yang lebih rapih. Sementara itu Rio, badannya tidak terlihat cukup jelas karena tertutup ukuran kerir yang sedikit lebih besar dari ukuran badannya, hehe.

Keluar dari warung nasi tersebut adalah jalanan aspal, kami harus berjalan turun ke arah… selatan, barat atau utara saya tidak tahu saat itu, pokonya kami hanya mengikuti jalanan aspal ini sampai kami menemukan gapura “Selamat Datang Para Pendaki Semeru” yang terletak di sebelah kanan jalan.

Nah, ini dia gapura yang sering saya lihat di Google. Melihat ke dalam gapura itu rupanya jalanan sudah berbeda lagi. Kami sempat berfoto sebentar, tanda bahwa memang kami sudah pernah ke sini. Masuk ke dalam gapura tersebut, kami pun mengambil belokan ke kiri yang menanjak, sesuai yang sudah diinformasikan oleh bapak penjual nasi rawon tersebut.

Harus sedikit hati-hati untuk menemukan jalur ke kiri tersebut. Pokoknya, setelah gapura jalan sedikit lalu waspada dan ambilah jalan ke kiri. Jalurnya agak sedikit meragukan karena kecil dan sepi, saya kira jalur ke Ranu Kumbolo justru lurus ke arah perkampungan yang ada di depan saya.

Berbelok ke kiri, waw, dan inilah sambutan yang meriah dari gunung Semeru. Ini kali pertama saya melahap tanjakan dengan beban di punggung yang sangat luar biasa. Sejam pertama selalu jadi waktu terberat saya di setiap pendakian karena fisik ini masih melakukan penyesuaian berat kerir, penyesuaian irama gerak kaki, dan tentu penyesuaian lutut yang terus bertekuk.

CIMG3757

Jangan sepelekan tanjakan pertama ini, 100m pertama yang bisa membuatmu kapok sudah ke Semeru ;p

Tanjakan yang sudah lumayan membuat ngos-ngosan tetapi alangkah bahagia, itu juga seakan jadi tanjakan terakhir yang kami temui, hehe. Selebihnya, jalanan papingblok (apa benar tulisannya seperti ini?) menghiasi perjalanan kami. Untuk jalur pendakian ke Semeru ini anda tidak perlu takut kesasar karena arahannya sudah sangat jelas. Di banyak jalur kita bisa menemukan papan informasi yang memberitahu kita tentang lokasi, ketinggian, suhu maksimal-minimal, dan juga info tentang jarak yang sudah kita tempuh, jadi lengkap bukan? Selain itu, ada banyak shelter atau bangunan permanen yang bisa kita pakai untuk istirahat dadakan kalau-kalau cuaca berubah seketika.

Ini dia bangunan permanen itu..

Ini dia bangunan permanen itu..

Kelompok kami yang kecil ini memungkinkan kami untuk berjalan cepat secara beriringan. Di jalanan sempit ini saya bertemu dengan banyak sekali pendaki yang turun waktu itu. Wajar sih, karena sebetulnya saya saat itu berangkat tepat pada liburan kepepet jadi pasti banyak sekali pendaki lainnya yang punya rencana sama dengan saya. Terkadang, pipi ini juga capek karena harus selalu tersenyum dan menyapa setiap pendaki yang lalu lalang di hadapan saya. Tapi sungguh, justru keberadaan pendaki lainlah yang membuat perjalanan pendakian di mana pun terasa lebih hangat.

Berjalan sekitar satu jam, kami tiba di Landengan Dowo 2300 mdpl. Perjalanan Ranu Pane – Ranu Kumbolo ini agak unik dengan kombinasi jalanan yang naik turun. Jika anda pernah trekking ke Hutan Juanda Bandung, nah situasi pendakian di sini kurang lebih saat itu hanya saja dengan alam yang masih jauh lebih asri dan sunyi. Saya tidak ingat waktu pasti yang kami habiskan untuk mencapai check point pertama di Landengan Dowo ini. Istirahat sebentar, kami juga lanjut berjalan ke tujuan berikutnya yaitu Watu Rejeng.

CIMG3761

Papan informasi sangat lengkap, sayang tidak ada informasi ke mana arah untuk mencapai Alfam*rt

CIMG3767

Naik gunung, tapi trek menurun

Sekitar kurang lebih satu jam berjalan kami justru malah mendapati trek yang menurun. Cukup aneh, tapi trek menuju Ranu Kumbolo memang lebih mirip seperti jalur lintas alam pada umumnya. Kita hanya berjalan memutari bukit-bukit yang terkadang naik dan turun. Akhirnya, di sebuah dasar lembah kami berhasil menemukan papan informasi yang menjelaskan bahwa kami telah sampai di Watu Rejeng.

CIMG3775

Sebuah spot yang terletak tepat di dasar lembah

Jika sebelumnya kita berada di ketinggian 2300 mdpl, setelah menempuh perjalanan 3 km jauhnya ternyata kita hanya naik 50 meter di ketinggian 2350 mdpl saja. Setidaknya, ini memperlihatkan kalau memang perjalanan kami ke Ranu Kumbolo ini belumlah terlalu ekstrem dengan tanjakan yang mematikan.

Melewati Watu Rejeng, perjalanan naik pun berlanjut. Trek setelah ini cukup menantang karena harus berjalan keluar dasar lembah tersebut dan menaiki bukit-bukit selanjutnya. Tidak jauh dari situ, kami melewati Jembatan Merah, spot terkenal yang menurut cerita setempat sebaiknya kita tidak melewati jembatan ini setelah lewat jam 6 sore. Tidak baik, katanya. Tapi nyatanya, pada saat itu masih saja banyak pendaki lain yang tidak sengaja kemalaman dan terpaksa harus melewati jembatan tersebut lewat dari jam 6. Di tempat ini kami sempat beristirahat sebentar sambil bercengkrama dengan beberapa pendaki lain yang juga sengaja ngaso di jembatan ini.

CIMG3778

Jembatan yang terkenal dengan mitosnya

Lepas dari Jembatan Merah trek terus menaik sampai pada akhirnya untuk kali pertama saya bisa menyaksikan Mahameru yang berdiri dengan gagahnya. Inilah kali pertama perjumpaan saya langsung dengan Mahameru. Maklum saja, Mahameru seakan malu menyapa karena sepanjang perjalanan kami ke Ranu Pane gunung yang gagah ini seakan hilang tertutup awan.

Kala itu sore hari dan waktu menunjukkan jam 17:00 WIB. Atap pulau Jawa ini berwarna kemerah-merahan dengan hiasan awan tipis yang sesekali berjalan melewati puncaknya. Sungguh indah pemandangan saat itu, ditemani dengan suara-suara binatang sekitar hutan lebat yang mengelilingi kami saat itu menjadikan momen perjumpaan pertama saya dengan Mahameru tersebut begitu spesial. Detik demi detik momen tersebut masih sangat terasa hingga saya menuliskan catper ini. Ada perasaan yang cukup dalam yang tak bisa direkam oleh kamera atau diwakilkan oleh kata-kata melalui tulisan.

CIMG3790

Mahameru berdiri dengan angkunya

CIMG3793

Aku dan Semeru

Sepertinya, inilah juga titik tertinggi dalam perjalanan kami menuju Ranu Kumbolo karena setelahnya perjalanan begitu landai dan malah cenderung menurun. Suasana lingkungan yang kami lewati saat itu masilah sama dengan banyak sekali pohon-pohon rindang di sebelah kanan kami dan terdapat jurang atau tebing yang cukup curam di sebelah kiri kami. Setengah jam berlalu dari momen tegur sapa saya dengan Semeru saya pun melihat genangan air yang berwarna kehijau-hijauan. Sejak pertama saya sudah menduganya, menduga bahwa memang benar itulah the famous Ranu Kumbolo, danau alami yang airnya tak pernah habis. Sebuah hamparan danau indah jadi bayaran untuk perjuangan kita selama 4,5 jam terakhir ini.

Sungguh lega perasaan saat itu, melihat sebuah hamparan danau yang begitu besar, dengan sekumpulan tenda-tenda yang telah terbangun rapi di ujung danau ini. Tidak ada secuil pun kabut yang menutupi pandangan kami saat itu.

Ah, Semeru. Alam yang memang luar biasa, dengan keindahan yang tersimpan rapi di setiap centi sudut yang kita lewati.

Selanjutnya, Mati-matian ke Kalimati.

Sebelumnya di Day 1

Kriswanto, Andreas 2014

IMG_0943

Ranu Kumbolo, jika dilihat dari sudut tertentu, danau ini akan terlihat seperti bentuk hati/love.